“Sebuah cinta yang tidak pernah diungkapkan itu terasa seperti
sebuah lembaran naskah bersih yang tak bisa kita ukir dengan warna-warna indah
kebahagiaan.”
Hanya bisa menatap keindahan dari
pojok kelas dia melihat sesuatu yang indah dan sangat ingin sekali dia sapa, panggil
saja dia Ajie, berkhayal bisa memegang tangan dan raut wajahnya. satu tepukan
keras mendarat dibahunya, ‘Plakk!!!, Eh bro kenapa lo ngelamun gitu’ sapaan
dari teman duduk dikelasnya yang bernama Agung sekaligus sahabat baiknya, ‘gak gua lagi mikir aja tadi’ ‘ahh lo mah
kebanyakan mikir juga kagak pinter-pinter’ ‘kampret lo ya’. Percakapan diantara
kedua sahabat tersebut berlanjut hingga
jam kuliah kelas itu selesai.
‘Jie tungguin gue’ terdengar suara
yang tidak asing ditelinga Ajie diapun menoleh kebelakang, nafasnya terhenti
sejenak dia melihat seseorang yang dia lamunkan tadi saat berada dikelas.
wanita itu? Wanita yang bernama Dinda yang dia lamunkan berjalan melewatinya.
Tanpa satu patah katapun terucap dibibirnya sampai sapaan agung kembali
menyadarkanya dari keadaan seperti itu ‘ehh lo, gue panggil-panggil kok malah
diam’ sapa Agung dengan rasa penasaran ‘dan gue liat juga dari tadi lo
merhatiin tu cewek’ menunjuk kearah Dinda yang tadinya berjalan melewati Ajie
‘Dinda kan namanya anak kelas pagi yang pindah kekelas kita, lo suka ya sama
dia natap orang sampe segitunya’ , ‘ngawur lo, dari tadi gue gak sengaja aja
ngeliat’ Ajie mengelak tuduhan Agung ‘lo
mah jangan jadi orang munafik, kalo suka ya bilang, ntar gue ajak kenalan’ Ajie
mulai mendengar serius apa yang dibicarakan Agung ‘serius lo?, boleh juga bantu gue kenalan’
Agung mengangguk pertanda dia menyetujuinya dan mereka meninggalkan kampus
dengan segera.
Kita tidak pernah tau apakah pandangan
pertama itu bisa disebut “cinta” atau sekedar “suka” dan hanya keterbiasaan yang
bisa membuatnya berbeda. Menikmati senja dengan segelas kopi ditangannya Ajie
mulai mengeja pikirannya yang selalu dibayangi sosok wanita yang selalu menarik
perhatiannya dikelas. Suara Hp berbunyi dia melihat siapa yang mengganggu
senjanya kali ini. ‘jie, gue mau nepatin janji yang kemaren’ tampak pesan dari
agung sahabat baiknya ‘janji yang mana?’ ‘yang lo mau minta kenalin sama dinda?’
Ajie menatap serius layar Hp itu ‘nah ini gue dapet pin BBM Dinda, lo invite
aja bilang kalau lo dapetnya dari gue’ Ajie tersenyum manis ‘beneran ini?
thanks ya bro lo emang sahabat paling oke’ , ‘iya sama-sama, sukses ya pdkt-nya’
senja sore itu pun semakin bertambah indah, dan Ajie tersenyum lebar penuh
harapan untuk perjuanganya.
Entah mungkin karena keberuntungan
atau memang cara perkenalan Ajie dan Dinda yang membuat mereka berdua lebih
mudah akrab tanpa harus menunggu waktu yang lama, percakapan demi percakapan
sangat nyaman terucap tanpa ada rasa malu yang mendekat, sapaan dan sedikit
perhatian membuat mereka mulai merasa nyaman. Dan pada suatu siang di 2 minggu
selanjutnya seusai jam terakhir perkuliahan, Dilorong kampus Dinda menyapa Ajie
‘Jie, pulang sendirian?’ , ‘iya nih, kamu pulang sama siapa?’, beharap Dinda
menjawab “gak tau”, ‘Aku nunggu jemputan’ dengan wajah sedikit kecewa Ajie
berharap kali ini dia tidak mendapatkan kekecewaan lagi ‘Emm, nanti malam ada
acara?, Aku mau ajakin kamu makan malam, mau gak?’ , ‘Emm, nanti malam sih gak
ada acara apa-apa, bolehlah kalau gitu’ Ajie tersenyum senang mendengar pernyataan
Dinda yang menyetujui ajakannya, ‘Oke aku jemput jam 7 ya nanti’ Dinda
mengangguk tanda menyetujuinya. Kali ini perjuangan Ajie mendapatkan respon
positif dan ini mungkin kemajuan dari semua pendekatan beberapa minggu yang
lalu.
Entah apa yang merasuki pikiran dan
hati Ajie terus memandangi kaca hanya untuk memperhatikan penampilannya, karena
memang dia tidak ingin nanti di hadapan Dinda terlihat seperti lelaki yang
tidak pantas untuk diajak ngedate. Jam menunjukan pukul 18.30 dia mulai siap-siap untuk menjemput Dinda dan menepati
janji yang disepakati tadi siang. ‘tok,tok,tok’ Ajie termenung seketika melihat
sosok yang membukakan dia pintu, Dinda terlihat sangat cantik dari biasanya. ‘ehh
kok ngelamun sih?’ Dinda membuyarkan lamunan Ajie yang sedari tadi terpesona
dengan sosok yang ada dihadapannya, ‘Sudah siap?’ Ajie tersenyum dan mereka pun
mulai mengelilingi indahnya malam dikota itu. Setelah makan malam berdua Ajie
mengajak untuk pergi ketempat Favoritenya ‘kita ke kedai kopi dulu mau gak?
disana tempatnya enak buat ngobrol’ , ‘wah, kebetulan aku juga pengen kesana
tapi gak sempat terus karena gak ada yang nemenin, boleh, boleh’ respon Dinda
yang antusias membuat Ajie merasa sangat tepat memilih tempat untuk mereka.
Tempat yang tidak terlalu ramai, hanya
orang-orang penikmat kopi, sedikit tawa dan canda membuat tempat itu semakin
tepat bila dilalui bersama orang yang pas. ‘Gimana kalau kita duduk disana?’
Ajie menunjuk kursi empuk disamping kaca yang pemandangannya pas antara jalanan
diluar dan alunan musik didalam kedai. ‘Kamu biasa kesini ya?’ tanya Dinda ‘ya
lumayan sih kalo lagi pengen sendiri, atau sama temen’ , ‘ngegalau juga ya
pastinya’ Dinda mencoba sedikit menyindir Ajie yang membuat suasana ditempat
itu semakin terasa nyaman. ‘ahh, kamu, aku gak pernah galau kalau kesini’
sambil menyeruput secangkir Cappucino hangat mereka mengobrol tentang
pengalaman, masadepan, hingga kenangan masalalu.
Waktu seolah tak pernah mengerti
tentang apa yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta, semua terasa cepat,
semua bahkan terasa tidak adil, tapi demikian juga waktu akan menjawab beberapa
pertanyaan yang tidak bisa terjawab pada saat yang diinginkan. Malam pun semakin larut, satu per satu orang-orang yang
ada di kedai kopi tadi mulai meninggalkan tempat itu, begitu juga mereka yang
bergegas untuk pulang dan beristirahat, karena Ajie juga tidak mau dipandang
tidak baik oleh keluarga Dinda apabila pulang larut malam. ‘makasih ya untuk
semuanya malam ini’ Ajie mengangguk dan berpamitan untuk pulang..
Keesokan harinya semua masih berjalan
lancar hubungan mereka semakin dekat, entah sampai satu minggu kemudian keadaan
sedikit berubah, keakraban mereka mulai tidak terlihat lagi. Dinda mulai
menjauh, tidak ada perhatian, tidak ada canda tawa, dan tidak ada sapaan kecil
yang membuat bahagia. Ajie mulai mencari tau kenapa Dinda mulai berubah,
terkadang dia bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirinya, kelakuannya,
atau kata-katanya yang membuat Dinda tersinggung. disaat seperti inilah seorang
sahabat itu sangat diperlukan, Ajie meminta bantuan Agung untuk mencari tau apa
yang terjadi, antara dia dan Dinda, sebagai sahabat yang baik Agung pun
bersedia membantu.
Entah setelah 2 hari berlalu Agung
mendapatkan sebuah kabar yang dia sendiri tidak tega untuk memberi tahu Ajie
sahabat baiknya ini. ‘jie, bisa kita ngbrol sebentar?’ , ‘apaan bro serius amat
muka lo, jelek tau gak? hahaha’ Ajie tertawa, dia tidak tau apa kabar yang
dibawa oleh sahabatnya itu, Agung mulai berbicara ‘masalah Dinda, gue sudah
dapat info’ Ajie menghentikan tertawanya dan memasang tatapan penasaran ingin
tahu ‘iya gimana?’ , ‘Lebih baik lo gak usah ngejar Dinda lagi deh, dia udah
jadian sama kakak tingkat senior kita’ Seketika mendengar pernyataan itu Ajie
menundukan kepala, dia merasa perjuangannya kali ini sia-sia, hatinya hancur, merasa
harapan yang dia berikan untuk Dinda terlalu besar hingga dia tidak memikirkan
disaat semua menjadi seperti ini, dan untuk sekarang dia tidak tahu lagi siapa
yang akan disalahkan Dinda? Hati? atau Harapannya?.
Agung mulai prihatin, dia tidak ingin
sahabat baiknya itu jatuh kedalam rasa yang sangat tidak mengenakan seperti
sekarang ini ‘Jie, sudahlah relakan saja Dinda, mungkin ini cara Tuhan memberi
cobaan buat lo, melalui Dinda, dan
mungkin ini juga cara Tuhan memberi tahu bahwa ada orang yang lebih baik yang
Dia siapkan buat lo melalui Dinda, dan Tuhan hanya ingin lo merasakan sakit
yang seperti ini bukan yang lebih parah lagi saat lo jadian sama Dinda nanti
misalnya, Cinta memang seperti itu kadang hilang sebelum diungkapkan, dan Tuhan
ingin lo mengungkapkan rasa cinta lo ke orang yang lebih pantas yang Dia
siapkan. Berpikir positif aja, semua ini bukan akhir dari segalanya, oke bro?.’
Sebuah nasihat antar sahabat terbaik diucapkan oleh Agung yang menyatakan kalau
persahabatan itu bukan hanya dari sebuah pertemanan yang saling menguntungkan,
tapi juga saling membantu dalam keterpurukan..