Semua Orang bisa berinspirasi tanpa harus memalukan diri sendiri hanya untuk menjadi seorang PLAGIAT, jadilah dirimu sendiri dan hargai setiap karya orang lain !!!

Thursday, 7 November 2013

LDR Tidak Serumit Itu

"Jarak bukan suatu alasan dimana cinta tidak bisa diperjuangkan, dan jarak tidak akan mudah diperjuangkan apabila tidak ada sebuah kepercayaan".

      Menatap layar handphone ini Aku sedari bertanya-tanya dalam hati bagaimana kabarmu sekarang, sudah beberapa bulan ini hubungan kita yang berjarak berbeda pulau terasa begitu hambar, entah apa gerangan kabarmu sulit sekali Aku dapatkan, tapi Aku tetap percaya kalau disini Aku memikirkanmu dan disana Kamu juga memikirkanku, dan kepercayaan itu yang bisa membuatku tetap berjuang menjalani hubungan ini.
     Banjarmasin – Lombok, mungkin sebagian orang menganggap kedua pulau itu sangat jauh, tapi mereka tidak pernah berpikir di kedua pulau itu ada dua cinta yang haus akan sebuah pertemuan, dan dua cinta yang memupuk rasa rindu yang semakin meninggi hingga terasa ingin sekali di ledakan.
      Pagi ini saat Aku kembali tersadar dari tidur lelapku, cepat-cepat Aku mengambil handphone dan terlihat satu pesan masuk yang bertuliskan namamu, senyumku menambah indahnya pagi ini, karena dengan satu ucapan selamat pagi saja itu sangat berarti bagi Aku yang yang terbebani rindu akan tatap matamu.
     Mengenai hubungan ini Aku sempat berpikir adakah kesempatan bahagia untuk para pecinta jarak seperti kita nantinya, yang untuk sebagian orang mungkin tidak mempercayai akan sebuah hubungan jarak jauh yang berujung bahagia, tapi yang hanya Aku tahu kamu adalah kebahagian yang tidak pernah dimiliki orang lain untukku.
   Untuk sebuah hubungan ini Aku lebih memilih kepercayaan sebagai benteng yang kokoh berdiri saat kabarmu tidak kunjung aku dapatkan, kepercayaan ini juga yang membuatku selalu tegar tetap mencintaimu dan terus setia bersamamu.
     Dalam hubungan ini Aku selalu mencoba mengerti akan dirimu, karena hubungan yang dekat saja harus saling mengerti dan begitu juga hubungan jarak jauh seperti ini juga harus bisa lebih mengerti satu sama lain, kamu mengerti akan kesibukanku, dan Aku mengerti akan kesibukanmu.
     Rindu ini tidak pernah selesai sampai satu pelukan darimu menghampiriku, satu sentuhan lembut dari tanganmu, satu sorot mata yang menatapku dalam diam, satu kecupan hangat yang membuat segala gundah dan gelisah akan pertemuan dan ragamu mulai menghilang. Entah kapan rindu ini akan berakhir, tapi disini Aku selalu mendoakanmu agar tetap baik-baik saja, karena Aku tau doa adalah satu-satunya cara untuk mengobati sedikit rindu yang ada.
     Pertengkaran, kalimat itu mungkin memang harus ada disemua hubungan jarak jauh maupun dekat, karena pertengkaran jugalah yang membuat kita bisa saling mengerti dan lebih paham satu sama lain, tapi, pertengkaran dalam hubungan jarak jauh tidak semudah apa yang dipikirkan untuk menyelesaikannya, dimana Aku tidak bisa melihat sosokmu langsung dan tidak bisa melihat apa yang sebenarnya kamu lakukan. Hal sepele mungkin masih bisa untuk diatasi, tapi sebuah ‘perselingkuhan’, kalimat itu bagai sebuah pedang semakin tajam yang berada di dalam pikiranku yang mungkin suatu saat bisa melukai diriku sendiri. Aku tetap percaya kamu walaupun Rindu, Cemburu, Kepercayaan, dan Emosi ini menjadi satu.
       Dulu Aku sempat tidak pernah percaya akan hubungan jarak jauh ini, Aku membenci hubungan ini dan tidak pernah percaya kalau hubungan jarak jauh ini bisa berakhir bahagia, tapi itu dulu, semenjak Aku mengenal kamu, mengenal tentang perjuangan, mengenal tentang indahnya sebuah kepercayaan, mengenal sulitnya rindu akan sebuah pertemuan, Aku mulai yakin tidak semua hubungan jarak jauh tidak berakhir bahagia. Dan Aku tetap berani karena kamu apapun resiko itu dan seberat apapun hubungan ini Aku bahagia.
        Di temani suara hujan, dan dinginnya dinding ruangan ini, rindu semakin menumpuk ingin dilampiaskan. Kita berjuang, kita bersama memupuk rindu, dan semoga kita juga yang akan memetik buah dari perjuangan ini. Disana kamu menjaga hati dan pikiranku, disini Aku mendoakanmu. Hubungan jarak jauh, Aku rasa tidak serumit itu. Kamu, nama yang selalu Aku perbincangkan bersama Tuhan, nama yang selalu mengisi otak dan pikiranku, dan juga nama yang selalu mengisi hati kecilku ini. Hanya kamu, dan Aku percaya itu. 



Inspired by: @ichafredie

Friday, 21 June 2013

Sebuah Harapan di Kedai Kopi

        
“Sebuah cinta yang tidak pernah diungkapkan itu terasa seperti sebuah lembaran naskah bersih yang tak bisa kita ukir dengan warna-warna indah kebahagiaan.”

Hanya bisa menatap keindahan dari pojok kelas dia melihat sesuatu yang indah dan sangat ingin sekali dia sapa, panggil saja dia Ajie, berkhayal bisa memegang tangan dan raut wajahnya. satu tepukan keras mendarat dibahunya, ‘Plakk!!!, Eh bro kenapa lo ngelamun gitu’ sapaan dari teman duduk dikelasnya yang bernama Agung sekaligus sahabat baiknya,  ‘gak gua lagi mikir aja tadi’ ‘ahh lo mah kebanyakan mikir juga kagak pinter-pinter’ ‘kampret lo ya’. Percakapan diantara kedua sahabat tersebut  berlanjut hingga jam kuliah kelas itu selesai.
‘Jie tungguin gue’ terdengar suara yang tidak asing ditelinga Ajie diapun menoleh kebelakang, nafasnya terhenti sejenak dia melihat seseorang yang dia lamunkan tadi saat berada dikelas. wanita itu? Wanita yang bernama Dinda yang dia lamunkan berjalan melewatinya. Tanpa satu patah katapun terucap dibibirnya sampai sapaan agung kembali menyadarkanya dari keadaan seperti itu ‘ehh lo, gue panggil-panggil kok malah diam’ sapa Agung dengan rasa penasaran ‘dan gue liat juga dari tadi lo merhatiin tu cewek’ menunjuk kearah Dinda yang tadinya berjalan melewati Ajie ‘Dinda kan namanya anak kelas pagi yang pindah kekelas kita, lo suka ya sama dia natap orang sampe segitunya’ , ‘ngawur lo, dari tadi gue gak sengaja aja ngeliat’ Ajie mengelak tuduhan Agung  ‘lo mah jangan jadi orang munafik, kalo suka ya bilang, ntar gue ajak kenalan’ Ajie mulai mendengar serius apa yang dibicarakan Agung  ‘serius lo?, boleh juga bantu gue kenalan’ Agung mengangguk pertanda dia menyetujuinya dan mereka meninggalkan kampus dengan segera.
Kita tidak pernah tau apakah pandangan pertama itu bisa disebut “cinta” atau sekedar “suka” dan hanya keterbiasaan yang bisa membuatnya berbeda. Menikmati senja dengan segelas kopi ditangannya Ajie mulai mengeja pikirannya yang selalu dibayangi sosok wanita yang selalu menarik perhatiannya dikelas. Suara Hp berbunyi dia melihat siapa yang mengganggu senjanya kali ini. ‘jie, gue mau nepatin janji yang kemaren’ tampak pesan dari agung sahabat baiknya ‘janji yang mana?’ ‘yang lo mau minta kenalin sama dinda?’ Ajie menatap serius layar Hp itu ‘nah ini gue dapet pin BBM Dinda, lo invite aja bilang kalau lo dapetnya dari gue’ Ajie tersenyum manis ‘beneran ini? thanks ya bro lo emang sahabat paling oke’ , ‘iya sama-sama, sukses ya pdkt-nya’ senja sore itu pun semakin bertambah indah, dan Ajie tersenyum lebar penuh harapan untuk perjuanganya.
Entah mungkin karena keberuntungan atau memang cara perkenalan Ajie dan Dinda yang membuat mereka berdua lebih mudah akrab tanpa harus menunggu waktu yang lama, percakapan demi percakapan sangat nyaman terucap tanpa ada rasa malu yang mendekat, sapaan dan sedikit perhatian membuat mereka mulai merasa nyaman. Dan pada suatu siang di 2 minggu selanjutnya seusai jam terakhir perkuliahan, Dilorong kampus Dinda menyapa Ajie ‘Jie, pulang sendirian?’ , ‘iya nih, kamu pulang sama siapa?’, beharap Dinda menjawab “gak tau”, ‘Aku nunggu jemputan’ dengan wajah sedikit kecewa Ajie berharap kali ini dia tidak mendapatkan kekecewaan lagi ‘Emm, nanti malam ada acara?, Aku mau ajakin kamu makan malam, mau gak?’ , ‘Emm, nanti malam sih gak ada acara apa-apa, bolehlah kalau gitu’ Ajie tersenyum senang mendengar pernyataan Dinda yang menyetujui ajakannya, ‘Oke aku jemput jam 7 ya nanti’ Dinda mengangguk tanda menyetujuinya. Kali ini perjuangan Ajie mendapatkan respon positif dan ini mungkin kemajuan dari semua pendekatan beberapa minggu yang lalu.
Entah apa yang merasuki pikiran dan hati Ajie terus memandangi kaca hanya untuk memperhatikan penampilannya, karena memang dia tidak ingin nanti di hadapan Dinda terlihat seperti lelaki yang tidak pantas untuk diajak ngedate. Jam menunjukan pukul 18.30 dia mulai  siap-siap untuk menjemput Dinda dan menepati janji yang disepakati tadi siang. ‘tok,tok,tok’ Ajie termenung seketika melihat sosok yang membukakan dia pintu, Dinda terlihat sangat cantik dari biasanya. ‘ehh kok ngelamun sih?’ Dinda membuyarkan lamunan Ajie yang sedari tadi terpesona dengan sosok yang ada dihadapannya, ‘Sudah siap?’ Ajie tersenyum dan mereka pun mulai mengelilingi indahnya malam dikota itu. Setelah makan malam berdua Ajie mengajak untuk pergi ketempat Favoritenya ‘kita ke kedai kopi dulu mau gak? disana tempatnya enak buat ngobrol’ , ‘wah, kebetulan aku juga pengen kesana tapi gak sempat terus karena gak ada yang nemenin, boleh, boleh’ respon Dinda yang antusias membuat Ajie merasa sangat tepat memilih tempat untuk mereka.
Tempat yang tidak terlalu ramai, hanya orang-orang penikmat kopi, sedikit tawa dan canda membuat tempat itu semakin tepat bila dilalui bersama orang yang pas. ‘Gimana kalau kita duduk disana?’ Ajie menunjuk kursi empuk disamping kaca yang pemandangannya pas antara jalanan diluar dan alunan musik didalam kedai. ‘Kamu biasa kesini ya?’ tanya Dinda ‘ya lumayan sih kalo lagi pengen sendiri, atau sama temen’ , ‘ngegalau juga ya pastinya’ Dinda mencoba sedikit menyindir Ajie yang membuat suasana ditempat itu semakin terasa nyaman. ‘ahh, kamu, aku gak pernah galau kalau kesini’ sambil menyeruput secangkir Cappucino hangat mereka mengobrol tentang pengalaman, masadepan, hingga kenangan masalalu.
Waktu seolah tak pernah mengerti tentang apa yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta, semua terasa cepat, semua bahkan terasa tidak adil, tapi demikian juga waktu akan menjawab beberapa pertanyaan yang tidak bisa terjawab pada saat yang diinginkan. Malam pun  semakin larut, satu per satu orang-orang yang ada di kedai kopi tadi mulai meninggalkan tempat itu, begitu juga mereka yang bergegas untuk pulang dan beristirahat, karena Ajie juga tidak mau dipandang tidak baik oleh keluarga Dinda apabila pulang larut malam. ‘makasih ya untuk semuanya malam ini’ Ajie mengangguk dan berpamitan untuk pulang..
Keesokan harinya semua masih berjalan lancar hubungan mereka semakin dekat, entah sampai satu minggu kemudian keadaan sedikit berubah, keakraban mereka mulai tidak terlihat lagi. Dinda mulai menjauh, tidak ada perhatian, tidak ada canda tawa, dan tidak ada sapaan kecil yang membuat bahagia. Ajie mulai mencari tau kenapa Dinda mulai berubah, terkadang dia bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirinya, kelakuannya, atau kata-katanya yang membuat Dinda tersinggung. disaat seperti inilah seorang sahabat itu sangat diperlukan, Ajie meminta bantuan Agung untuk mencari tau apa yang terjadi, antara dia dan Dinda, sebagai sahabat yang baik Agung pun bersedia membantu.
Entah setelah 2 hari berlalu Agung mendapatkan sebuah kabar yang dia sendiri tidak tega untuk memberi tahu Ajie sahabat baiknya ini. ‘jie, bisa kita ngbrol sebentar?’ , ‘apaan bro serius amat muka lo, jelek tau gak? hahaha’ Ajie tertawa, dia tidak tau apa kabar yang dibawa oleh sahabatnya itu, Agung mulai berbicara ‘masalah Dinda, gue sudah dapat info’ Ajie menghentikan tertawanya dan memasang tatapan penasaran ingin tahu ‘iya gimana?’ , ‘Lebih baik lo gak usah ngejar Dinda lagi deh, dia udah jadian sama kakak tingkat senior kita’ Seketika mendengar pernyataan itu Ajie menundukan kepala, dia merasa perjuangannya kali ini sia-sia, hatinya hancur, merasa harapan yang dia berikan untuk Dinda terlalu besar hingga dia tidak memikirkan disaat semua menjadi seperti ini, dan untuk sekarang dia tidak tahu lagi siapa yang akan disalahkan Dinda? Hati? atau Harapannya?.
Agung mulai prihatin, dia tidak ingin sahabat baiknya itu jatuh kedalam rasa yang sangat tidak mengenakan seperti sekarang ini ‘Jie, sudahlah relakan saja Dinda, mungkin ini cara Tuhan memberi cobaan buat lo,  melalui Dinda, dan mungkin ini juga cara Tuhan memberi tahu bahwa ada orang yang lebih baik yang Dia siapkan buat lo melalui Dinda, dan Tuhan hanya ingin lo merasakan sakit yang seperti ini bukan yang lebih parah lagi saat lo jadian sama Dinda nanti misalnya, Cinta memang seperti itu kadang hilang sebelum diungkapkan, dan Tuhan ingin lo mengungkapkan rasa cinta lo ke orang yang lebih pantas yang Dia siapkan. Berpikir positif aja, semua ini bukan akhir dari segalanya, oke bro?.’ Sebuah nasihat antar sahabat terbaik diucapkan oleh Agung yang menyatakan kalau persahabatan itu bukan hanya dari sebuah pertemanan yang saling menguntungkan, tapi juga saling membantu dalam keterpurukan..

Tuesday, 12 February 2013

Kenangan Itu Semu


“Semua terasa palsu disaat kau mulai bermain-main dengan perasaan cintamu”
  
          
           Semua bermula disaat Aku menemukan sosoknya diujung jalan, dimana dia terlihat menunggu seseorang. Aku tertarik melihat sosok anggun yang ada dihadapanku, tidak ingin kulewatkan kesempatan ini, tidak tenang hatiku bila tak menyapanya. Dengan perasaan yang gelisah aku mulai memberanikan diri untuk menegurnya. Tanpa kusangka respon yang dia berikan cukup membuat kegelisahan hatiku mulai menghilang, Dia tersenyum dan kita mulai berkenalan. Waktupun terasa singkat saat bebicara dengannya, tapi semua itu terasa awal yang Indah setelah aku jatuh dari keterpurukanku.
            Komunikasi memang salah satu cara untuk mempererat suatu perkenalan, tak berapa lama kita semakin akrab, yang mulanya Aku tidak berani menelponnya sekarang kita sudah sering teleponan sampai berJam-jam. yang sebelumnya aku tidak berani mengajaknya jalan-jalan, sekarang kita sering bersama.
            Sampai suatu hari aku berniat untuk mengungkapkan perasaan yang ada dihatiku yang mungkin semakin lama semakin tidak bisa kubendung lagi. Aku mengajaknya kesuatu tempat yang menurutku romantis, tapi mungkin tidak juga bagi orang lain. Dengan hati yang berdegup kencang aku mulai menatap matanya, aku juga ingin dia menatapku, ingin dia mengetahui apa yang ada dalam isi hati ini yang mulai tumbuh rasa cinta yang tak pernah kuduga. dan aku mengatakaan semua itu, responnya kali ini juga menenangkan hatiku karena dia mengatakan apa yang ada didalam hatinya sama seperti yang ada didalam hatiku. Betapa bahagianya aku, dunia seakan-akan menjadi surga, dan cintaku pun terbalaskan.
            Beberapa hari kami lewati dengan rasa bahagia, seakan-akan dunia menjadi surga milik kami berdua, dia salah satu kebangganku, dia juga salah satu penyemangatku, satu bulan dilewati dengan senyum.
            Tepat dibulan kedua aku mendapatkan kabar bahwa dia harus pergi keluar kota bersama keluarga besarnya, sebagai laki-laki pengertian aku mengizinkannya, walaupun didalam hati ini tidak ingin dia pergi jauh dari kehidupanku, rasa rindupun muncul dengan seketika mengalir bagaikan air hujan yang turun dengan derasnya.
            Tidak lama setelah kepulanganya dari luar kota, aku merasa sangat senang, rasa rinduku pun terobati. Tapi mengapa ada hal yang berbeda? Sifatnya, Sifatnya berubah bukan lagi dia yang kukenal, saat bertemu selalu membuatku tersenyum sekarang berbalik, hanya ada pertengkaraan diantara kami, pertengkaran yang entah apa akupun tidak tahu permasalahanya. Aku tidak tahu mengapa? Dia berbeda, dan sekarang yang hanya aku tahu Dia mulai berubah.
            Hubungan kami mulai memburuk, entah apa yang teerjadi aku tidak pernah mengetahui itu, setiap aku bertanyapun dia tidak pernah menjawab dan balik memarahiku. aku semakin penasaran apa yang terjadi diantara kami, aku mulai mencari tahu, dan yang kutemukan itu tidak pernah muncul didalam pikiranku. Tidak pernah aku menyangka dia akan membohongiku dan berbuat setega itu, Dia tidak pernah benar-benar pergi keluar kota, dan bahkan dia terus bersama orang ketiga diantara kami.
            Hatiku mulai tak terkendali, pikiranku jauh melayang seakan-akan dunia tak lagi berputar dan matahari tak lagi menyinari pancaran sinarnya. orang yang kubanggakan kini telah menyakitiku, orang yang dulu menjadi penyemangatku telah meninggalkanku, Aku terluka untuk kesekian kalinya, apakah memang tidak ada cinta yang pantas untukku dapatkan, apakah aku harus memohon kepadamu agar kau kembali bersamaku lagi saat ini.
            Rasa ikhlas sulit untuk aku ucapkan, dimana kesedihan ini mulai mempengaruhi isi otakku, rasa cinta kini berubah menjadi rasa gelisah yang tak kunjung reda, mungkin ini takdirku, mencintai dan harus tersakiti, kadang aku berpikir, apakah cinta itu benar-benar ada, apakah ini juga bisa disebut cinta? dan mengapa semua kenangan itu begitu banyak muncul diotakku. kenangan seseorang yang telah menyakitiku, kenangan seseorang yang telah menyia-nyiakanku.

            “Tuhan, Aku tahu ada kebahagiaan dibalik semua ini, Sakiti aku terlebih dahulu, dan bahagiakanlah Aku dikemudian hari”

Aku, Kamu, dan Dunia Kita



"Semua dimulai saat kepergianmu  menghadap Sang Pencipta".

            Aku sungguh terpukul akan kenyataan yang sebenarnya tidak dapat kuterima itu, “Kamu” Orang yang sangat aku sayang, penyemangatku, cinta terindah yang selalu menemani hari-hariku sekarang telah hilang dan semua hanya tersisa kenangan, “senyumu”, “tawamu”, “candamu”, masih menyatu didalam otakku.
            Tak pernah Aku tahu berapa banyak air mata yang telah aku keluarkan, menangisi kepergian sosok indah dihidupku. Terkadang  pikiranku mulai bodoh, Aku “berandai-andai” Kau bisa hidup kembali menemani hari-hariku lagi. Dan Aku tersenyum apabila melakukan hal bodoh itu, walaupun setelah berapa menit kemudian air mataku mulai membasahi pipi ini lagi karena mengingat kenyataan yang tidak bisa kuterima ini.
            Kadang aku berpikir, mengapa Tuhan memisahkan Aku dan Kamu dengan cara seperti ini, apakah kita berdosa kepadanya?, apakah Tuhan tidak menyayangi kita yang saling mencinta ini, Apakah ini cara untuk membuat kita bahagia nanti?, tapi yang Aku tau “hanya Kamu kebahagiaan yang Aku miliki”.
            “Selamat Tidur Sayang”  kata sederhana yang sering Kamu ucapkan itu selalu Aku rindukan. Setiap malam, sebelum lelapku Aku selalu berdoa kata itu bisa muncul di layar Handphone ini. Walaupun setelah itu Aku kembali menangis karena Aku tahu semua itu tidaklah mungkin.
            Aku teringat kembali saat kamu berusaha membuatku menjadi pribadi yang lebih baik, nasihat-nasihat yang kamu berikan terkadang membuatku risih, tapi Aku tau semua itu hanya untuk kebaikanku sendiri. Terkadang juga Aku acuh dan malah balik memarahimu, tapi kamu terus sabar untuk menghadapi Egoku. Mungkin karena hal seperti ini yang membuat Tuhan membiarkanku tidak bersamamu lagi. Entahlah, Aku hanya bisa menangis untuk saat ini.
            “Sayang” Aku sangat ingin “menyapamu”, “membelai rambutmu”, “mencium keningmu”, dan “memelukmu”, Apa kabarmu disana? Baikkah Kamu bersama Tuhan? Aku “Merindukanmu” Sayang, Sangat...sangat...sangat merindukanmu. Aku sudah tidak manja lagi sayang, sekarang Aku juga sudah bisa menjadi kuat, tegar, dan lebih penyabar, itu semua karena nasihat yang sering kamu ucapkan hanya untuk membuatku menjadi lebih baik dan berguna untuk orang-orang yang menyayangiku.
            Tuhan, pintaku kali ini, jagalah “Dia” Orang yang kucintai, sangat kusayang, dan berharga untuku, hanya doa yang bisa kulakukan saat ini, doa agar “Dia” bisa tenang bersamamu Tuhan. Sampaikan juga salamku kepadanya, salam cinta dan sayangku kepadanya.Tunggu aku dikehidupan kekal itu Sayang. dan Terima kasih telah membawa cintaku sampai akhir hayat hidupmu.

“Love and Miss For You”

Aku Mencintaimu


“Suatu saat nanti, kamu akan tahu, siapa yang menyayangimu tanpa menghitung waktu.”


Aku, berdiri pada pijakanku yang tak bertepi. Aku bukan mengharapkanmu kembali dan memelukku lagi. Beberapa suara memang terdengar sedang mengatakan itu, tapi dalam kesungguhan, bukan aku yang menyuarakannya. Kamu selalu bertanya tentang mengapa aku mempersilakanmu pergi, tentang apakah aku sudah tidak memperdulikanmu lagi, dan tentang mengapa aku tidak menagih sebuah janji. 
Ketika aku mempersilakanmu pergi, hanya satu hal yang terpikir olehku. Betapa bahagianya kamu nanti, setelah kamu merasakan penyesalan yang mendalam, lalu mempelajari, dan memahaminya. Agar suatu saat nanti, jika kau dipertemukan dengan hal yang sama, kamu tidak lagi mengulanginya. Ini sungguh menyimpang dari kenyataan, tentang kepedulianku terhadapmu yang kau anggap adalah ketidakpedulianku kepadamu.
Pernahkah terbayang olehmu, soal sudah berapa banyak waktu yang ku buang untuk mencintaimu disaat aku tidak ingin lagi menghitungnya? Pertanyaan terakhirmu sungguh menggelitik, aku tidak ingin menjawabnya. Janjiku yang mana yang baru aku tepati setelah mendapat tagihan darimu? Sudahlah, nikmati saja ketiadaanku. 
Ini keputusanmu.
“Saat ini mungkin tidak. Tapi nanti, tentang seringnya aku memelukmu dulu, akan dengan tiba-tiba menghantuimu. Dan kerinduanmu terhadapku, bermula dari situ.” “Aku mencintaimu, seperti jam yang terus berjalan sekalipun Ia punya alasan untuk enggan berputar.”Dalam kesungguhan, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk menafsirkan cinta yang sampai saat ini masih kau anggap tabu.
Karena aku mencintaimu dengan caraku. Mencintaimu dengan tidak menunda waktu. Jika sebuah es saja bisa mencair hanya dengan ku taruh di atas telapak tanganku, lalu kenapa kau yang ku genggam tangannya sembari ku salurkan kehangatan cinta tidak?
           Aku punya banyak alasan untuk menjelaskan kenapa aku berjuang mati-matian agar namaku terselip ke dalam sela-sela hatimu. Tapi bagiku, tulisan, bahkan lisan pun tak cukup untukku membuktikan seberapa kuat tekadku untuk mencapai tujuanku. Mungkin hanya dengan bertarung, tidak dengan melawan waktu, tetapi berjalan beriringan dengan waktu yang menurutku Ialah penentu hidup dan matinya cintamu ― Padaku.