“Perlakukan diriku sebagaimana kau menyayangi bonekamu.”
Aku ini boneka seperti
apa yang sedang kau mainkan? Kau buang seenaknya, kau tinggal semaunya, dan kau
perlakukan seperti sampah. Aku berbicara tentang kita, tentang hubungan kita
yang semakin hari semakin rusak, entah siapa yang merusak, Aku, Kau atau takdir
kita, tapi disini aku terus ingin mengajakmu untuk memperbaiki semua ini,
memperbaiki apa yang telah rusak, namun itu sia-sia saat kau biarkan aku
memperbaiki hubungan ini sendiri.
Coba sedikit kita
mengingat yang telah lewat, disaat pertama kita berbahagia, disaat kata-kataku
masih kau dengarkan, dan disaat kita masih saling menghargai, Aku merindukan
itu, begitu indah. Tapi semua itu berubah disaat kau inginkan aku menjadi
sempurna, menjadi orang yang aku sendiri tidak mengenal siapa aku, aku ini boneka
seperti apa yang sedang kau mainkan?
Aku mengenalmu sebagai
orang yang bisa aku percaya menemani hari-hariku, memujamu disetiap waktuku
mengasihimu hingga aku lupa mengasihi diriku. Tapi apa balasanmu? Kau
menganggap hubungan ini hanya bualan belaka, kau berikan setiap masalah yang
kita alami kepadaku hingga aku yang menyelesaikan dan memperjuangkan hubungan
kita ini sendiri, kata-kata manismu bagaikan sebuah omongkosong besar yang
tidak pernah ada di dalam hatimu. Aku ini boneka seperti apa yang sedang kau
mainkan? Aku juga bisa lelah sayang.
Cinta terlanjur masuk
kedalaam hati ini, aku tidak bisa melepasnya hanya karena masalah yang ada dari kita. Tapi mengapa
dihatimu cinta ini bisa hilang begitu saja? Dimana kata-kata sayang yang dulu
pernah kau ucapkan? Dimana kata-kata cinta yang dulu pernah kau berikan? Apa itu hanya ungkapan agar kau ingin melihat
aku bahagia? Aku ini boneka seperti apa yang sedang kau mainkan? Caramu salah
sayang, kau hanya membunuh hatiku secara perlahan.
Hargailah aku sedikit
saja, aku juga ingin diperjuangkan, dicintai sepenuhnya oleh orang yang aku
perjuangkan, bukan hanya sekedar mainan yang bisa kau bongkar pasang sesukamu,
kita pernah berjanji untuk saling menghargai, mencintai, memiliki, dan
menyayangi, namun aku lupa mengucapkan sesuatu dulu ‘jangan biarkan aku
sendiri’ dan kau mulai mengingkari.
Aku bersyukur
memilikimu namun kau tidak bahagia memilikiku. Apa ini cara Tuhan menandakan
bahwa kita memang harus berjalan sendiri-sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan?
Bagaimana aku bisa melakukan itu saat aku berkata kepada diriku sendiri kau
adalah salah satu kebahagiaanku. Apa aku terlalu egois tidak ingin melepasmu
namun aku yang memperjuangkan cinta ini sendiri? Bantu aku sayang aku mulai
lelah meemperjuangkan kita sendirian, boneka yang sedang kau mainkan ini juga
akan rusak bila tidak kau rawat.
No comments:
Post a Comment