“Suatu saat nanti, kamu akan tahu, siapa yang menyayangimu tanpa menghitung waktu.”
Aku, berdiri pada pijakanku yang tak bertepi. Aku bukan mengharapkanmu kembali dan memelukku lagi. Beberapa suara memang terdengar sedang mengatakan itu, tapi dalam kesungguhan, bukan aku yang menyuarakannya. Kamu selalu bertanya tentang mengapa aku mempersilakanmu pergi, tentang apakah aku sudah tidak memperdulikanmu lagi, dan tentang mengapa aku tidak menagih sebuah janji.
Ketika aku mempersilakanmu pergi, hanya satu hal yang terpikir olehku. Betapa bahagianya kamu nanti, setelah kamu merasakan penyesalan yang mendalam, lalu mempelajari, dan memahaminya. Agar suatu saat nanti, jika kau dipertemukan dengan hal yang sama, kamu tidak lagi mengulanginya. Ini sungguh menyimpang dari kenyataan, tentang kepedulianku terhadapmu yang kau anggap adalah ketidakpedulianku kepadamu.
Pernahkah terbayang olehmu, soal sudah berapa banyak waktu yang ku buang untuk mencintaimu disaat aku tidak ingin lagi menghitungnya? Pertanyaan terakhirmu sungguh menggelitik, aku tidak ingin menjawabnya. Janjiku yang mana yang baru aku tepati setelah mendapat tagihan darimu? Sudahlah, nikmati saja ketiadaanku.
Ini keputusanmu.
“Saat ini mungkin tidak. Tapi nanti, tentang seringnya aku memelukmu dulu, akan dengan tiba-tiba menghantuimu. Dan kerinduanmu terhadapku, bermula dari situ.” “Aku mencintaimu, seperti jam yang terus berjalan sekalipun Ia punya alasan untuk enggan berputar.”Dalam kesungguhan, sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk menafsirkan cinta yang sampai saat ini masih kau anggap tabu.
Karena aku mencintaimu dengan caraku. Mencintaimu dengan tidak menunda waktu. Jika sebuah es saja bisa mencair hanya dengan ku taruh di atas telapak tanganku, lalu kenapa kau yang ku genggam tangannya sembari ku salurkan kehangatan cinta tidak?
Aku punya banyak alasan untuk menjelaskan kenapa aku berjuang mati-matian agar namaku terselip ke dalam sela-sela hatimu. Tapi bagiku, tulisan, bahkan lisan pun tak cukup untukku membuktikan seberapa kuat tekadku untuk mencapai tujuanku. Mungkin hanya dengan bertarung, tidak dengan melawan waktu, tetapi berjalan beriringan dengan waktu yang menurutku Ialah penentu hidup dan matinya cintamu ― Padaku.
No comments:
Post a Comment