Semua Orang bisa berinspirasi tanpa harus memalukan diri sendiri hanya untuk menjadi seorang PLAGIAT, jadilah dirimu sendiri dan hargai setiap karya orang lain !!!

Friday, 21 June 2013

Sebuah Harapan di Kedai Kopi

        
“Sebuah cinta yang tidak pernah diungkapkan itu terasa seperti sebuah lembaran naskah bersih yang tak bisa kita ukir dengan warna-warna indah kebahagiaan.”

Hanya bisa menatap keindahan dari pojok kelas dia melihat sesuatu yang indah dan sangat ingin sekali dia sapa, panggil saja dia Ajie, berkhayal bisa memegang tangan dan raut wajahnya. satu tepukan keras mendarat dibahunya, ‘Plakk!!!, Eh bro kenapa lo ngelamun gitu’ sapaan dari teman duduk dikelasnya yang bernama Agung sekaligus sahabat baiknya,  ‘gak gua lagi mikir aja tadi’ ‘ahh lo mah kebanyakan mikir juga kagak pinter-pinter’ ‘kampret lo ya’. Percakapan diantara kedua sahabat tersebut  berlanjut hingga jam kuliah kelas itu selesai.
‘Jie tungguin gue’ terdengar suara yang tidak asing ditelinga Ajie diapun menoleh kebelakang, nafasnya terhenti sejenak dia melihat seseorang yang dia lamunkan tadi saat berada dikelas. wanita itu? Wanita yang bernama Dinda yang dia lamunkan berjalan melewatinya. Tanpa satu patah katapun terucap dibibirnya sampai sapaan agung kembali menyadarkanya dari keadaan seperti itu ‘ehh lo, gue panggil-panggil kok malah diam’ sapa Agung dengan rasa penasaran ‘dan gue liat juga dari tadi lo merhatiin tu cewek’ menunjuk kearah Dinda yang tadinya berjalan melewati Ajie ‘Dinda kan namanya anak kelas pagi yang pindah kekelas kita, lo suka ya sama dia natap orang sampe segitunya’ , ‘ngawur lo, dari tadi gue gak sengaja aja ngeliat’ Ajie mengelak tuduhan Agung  ‘lo mah jangan jadi orang munafik, kalo suka ya bilang, ntar gue ajak kenalan’ Ajie mulai mendengar serius apa yang dibicarakan Agung  ‘serius lo?, boleh juga bantu gue kenalan’ Agung mengangguk pertanda dia menyetujuinya dan mereka meninggalkan kampus dengan segera.
Kita tidak pernah tau apakah pandangan pertama itu bisa disebut “cinta” atau sekedar “suka” dan hanya keterbiasaan yang bisa membuatnya berbeda. Menikmati senja dengan segelas kopi ditangannya Ajie mulai mengeja pikirannya yang selalu dibayangi sosok wanita yang selalu menarik perhatiannya dikelas. Suara Hp berbunyi dia melihat siapa yang mengganggu senjanya kali ini. ‘jie, gue mau nepatin janji yang kemaren’ tampak pesan dari agung sahabat baiknya ‘janji yang mana?’ ‘yang lo mau minta kenalin sama dinda?’ Ajie menatap serius layar Hp itu ‘nah ini gue dapet pin BBM Dinda, lo invite aja bilang kalau lo dapetnya dari gue’ Ajie tersenyum manis ‘beneran ini? thanks ya bro lo emang sahabat paling oke’ , ‘iya sama-sama, sukses ya pdkt-nya’ senja sore itu pun semakin bertambah indah, dan Ajie tersenyum lebar penuh harapan untuk perjuanganya.
Entah mungkin karena keberuntungan atau memang cara perkenalan Ajie dan Dinda yang membuat mereka berdua lebih mudah akrab tanpa harus menunggu waktu yang lama, percakapan demi percakapan sangat nyaman terucap tanpa ada rasa malu yang mendekat, sapaan dan sedikit perhatian membuat mereka mulai merasa nyaman. Dan pada suatu siang di 2 minggu selanjutnya seusai jam terakhir perkuliahan, Dilorong kampus Dinda menyapa Ajie ‘Jie, pulang sendirian?’ , ‘iya nih, kamu pulang sama siapa?’, beharap Dinda menjawab “gak tau”, ‘Aku nunggu jemputan’ dengan wajah sedikit kecewa Ajie berharap kali ini dia tidak mendapatkan kekecewaan lagi ‘Emm, nanti malam ada acara?, Aku mau ajakin kamu makan malam, mau gak?’ , ‘Emm, nanti malam sih gak ada acara apa-apa, bolehlah kalau gitu’ Ajie tersenyum senang mendengar pernyataan Dinda yang menyetujui ajakannya, ‘Oke aku jemput jam 7 ya nanti’ Dinda mengangguk tanda menyetujuinya. Kali ini perjuangan Ajie mendapatkan respon positif dan ini mungkin kemajuan dari semua pendekatan beberapa minggu yang lalu.
Entah apa yang merasuki pikiran dan hati Ajie terus memandangi kaca hanya untuk memperhatikan penampilannya, karena memang dia tidak ingin nanti di hadapan Dinda terlihat seperti lelaki yang tidak pantas untuk diajak ngedate. Jam menunjukan pukul 18.30 dia mulai  siap-siap untuk menjemput Dinda dan menepati janji yang disepakati tadi siang. ‘tok,tok,tok’ Ajie termenung seketika melihat sosok yang membukakan dia pintu, Dinda terlihat sangat cantik dari biasanya. ‘ehh kok ngelamun sih?’ Dinda membuyarkan lamunan Ajie yang sedari tadi terpesona dengan sosok yang ada dihadapannya, ‘Sudah siap?’ Ajie tersenyum dan mereka pun mulai mengelilingi indahnya malam dikota itu. Setelah makan malam berdua Ajie mengajak untuk pergi ketempat Favoritenya ‘kita ke kedai kopi dulu mau gak? disana tempatnya enak buat ngobrol’ , ‘wah, kebetulan aku juga pengen kesana tapi gak sempat terus karena gak ada yang nemenin, boleh, boleh’ respon Dinda yang antusias membuat Ajie merasa sangat tepat memilih tempat untuk mereka.
Tempat yang tidak terlalu ramai, hanya orang-orang penikmat kopi, sedikit tawa dan canda membuat tempat itu semakin tepat bila dilalui bersama orang yang pas. ‘Gimana kalau kita duduk disana?’ Ajie menunjuk kursi empuk disamping kaca yang pemandangannya pas antara jalanan diluar dan alunan musik didalam kedai. ‘Kamu biasa kesini ya?’ tanya Dinda ‘ya lumayan sih kalo lagi pengen sendiri, atau sama temen’ , ‘ngegalau juga ya pastinya’ Dinda mencoba sedikit menyindir Ajie yang membuat suasana ditempat itu semakin terasa nyaman. ‘ahh, kamu, aku gak pernah galau kalau kesini’ sambil menyeruput secangkir Cappucino hangat mereka mengobrol tentang pengalaman, masadepan, hingga kenangan masalalu.
Waktu seolah tak pernah mengerti tentang apa yang dirasakan orang yang sedang jatuh cinta, semua terasa cepat, semua bahkan terasa tidak adil, tapi demikian juga waktu akan menjawab beberapa pertanyaan yang tidak bisa terjawab pada saat yang diinginkan. Malam pun  semakin larut, satu per satu orang-orang yang ada di kedai kopi tadi mulai meninggalkan tempat itu, begitu juga mereka yang bergegas untuk pulang dan beristirahat, karena Ajie juga tidak mau dipandang tidak baik oleh keluarga Dinda apabila pulang larut malam. ‘makasih ya untuk semuanya malam ini’ Ajie mengangguk dan berpamitan untuk pulang..
Keesokan harinya semua masih berjalan lancar hubungan mereka semakin dekat, entah sampai satu minggu kemudian keadaan sedikit berubah, keakraban mereka mulai tidak terlihat lagi. Dinda mulai menjauh, tidak ada perhatian, tidak ada canda tawa, dan tidak ada sapaan kecil yang membuat bahagia. Ajie mulai mencari tau kenapa Dinda mulai berubah, terkadang dia bertanya-tanya apakah ada yang salah dengan dirinya, kelakuannya, atau kata-katanya yang membuat Dinda tersinggung. disaat seperti inilah seorang sahabat itu sangat diperlukan, Ajie meminta bantuan Agung untuk mencari tau apa yang terjadi, antara dia dan Dinda, sebagai sahabat yang baik Agung pun bersedia membantu.
Entah setelah 2 hari berlalu Agung mendapatkan sebuah kabar yang dia sendiri tidak tega untuk memberi tahu Ajie sahabat baiknya ini. ‘jie, bisa kita ngbrol sebentar?’ , ‘apaan bro serius amat muka lo, jelek tau gak? hahaha’ Ajie tertawa, dia tidak tau apa kabar yang dibawa oleh sahabatnya itu, Agung mulai berbicara ‘masalah Dinda, gue sudah dapat info’ Ajie menghentikan tertawanya dan memasang tatapan penasaran ingin tahu ‘iya gimana?’ , ‘Lebih baik lo gak usah ngejar Dinda lagi deh, dia udah jadian sama kakak tingkat senior kita’ Seketika mendengar pernyataan itu Ajie menundukan kepala, dia merasa perjuangannya kali ini sia-sia, hatinya hancur, merasa harapan yang dia berikan untuk Dinda terlalu besar hingga dia tidak memikirkan disaat semua menjadi seperti ini, dan untuk sekarang dia tidak tahu lagi siapa yang akan disalahkan Dinda? Hati? atau Harapannya?.
Agung mulai prihatin, dia tidak ingin sahabat baiknya itu jatuh kedalam rasa yang sangat tidak mengenakan seperti sekarang ini ‘Jie, sudahlah relakan saja Dinda, mungkin ini cara Tuhan memberi cobaan buat lo,  melalui Dinda, dan mungkin ini juga cara Tuhan memberi tahu bahwa ada orang yang lebih baik yang Dia siapkan buat lo melalui Dinda, dan Tuhan hanya ingin lo merasakan sakit yang seperti ini bukan yang lebih parah lagi saat lo jadian sama Dinda nanti misalnya, Cinta memang seperti itu kadang hilang sebelum diungkapkan, dan Tuhan ingin lo mengungkapkan rasa cinta lo ke orang yang lebih pantas yang Dia siapkan. Berpikir positif aja, semua ini bukan akhir dari segalanya, oke bro?.’ Sebuah nasihat antar sahabat terbaik diucapkan oleh Agung yang menyatakan kalau persahabatan itu bukan hanya dari sebuah pertemanan yang saling menguntungkan, tapi juga saling membantu dalam keterpurukan..